latihan pas



Teks ini untuk No. 23 – 26

Seorang penebang kayu sedang menebang pohon di tepi sungai, ketika kapaknya terpental mengenai batang pohon, terlepas dari tangannya, dan jatuh ke dalam air. Saat ia berdiri di tepi sungai meratapi kehilangannya, dewa Merkurius muncul dan bertanya mengapa ia bersedih. Setelah mengetahui apa yang terjadi, Merkurius menyelam ke sungai dan muncul membawa sebuah kapak emas. Ia bertanya apakah itu kapak yang hilang.

Penebang kayu itu menjawab bahwa itu bukan miliknya. Merkurius lalu menyelam untuk kedua kalinya dan membawa kapak perak, dan bertanya apakah itu miliknya. “Bukan, itu juga bukan milikku,” kata penebang kayu itu. Sekali lagi Merkurius menyelam ke sungai dan membawa kapak yang hilang. Penebang kayu itu sangat senang melihat kapaknya ditemukan dan berterima kasih dengan hangat. Kemudian, Merkurius memberinya hadiah berupa dua kapak lainnya—kapak perak dan kapak emas—karena ia sangat senang dengan kejujuran penebang kayu tersebut.

Ketika penebang kayu itu menceritakan kisah ini kepada teman-temannya, salah satu dari mereka menjadi iri atas keberuntungan baiknya dan berniat mencoba peruntungannya sendiri. Jadi ia pergi dan mulai menebang pohon di tepi sungai, dan dengan sengaja mencoba menjatuhkan kapaknya ke dalam air.

Merkurius muncul seperti sebelumnya, dan setelah mengetahui bahwa kapak orang itu jatuh, ia menyelam dan membawa kapak emas, sebagaimana dilakukan pada kejadian sebelumnya. Tanpa menunggu ditanya apakah itu miliknya atau bukan, orang itu langsung berteriak, “Itu punyaku, itu punyaku,” dan ingin mengambil hadiah itu. Namun Merkurius tidak suka melihat ketidakjujurannya. Maka ia tidak memberikan kapak emas tersebut. Ia juga menolak mencari kapak asli yang sengaja dijatuhkan orang itu ke sungai.



Postingan populer dari blog ini

The Tale of La Ane: The Boy Who Became a Bird Folklore from Southeast Sulawesi

10 Kosakata

the power of youth in problem solving